KUPANG, PK -- Perayaan pesta perak (dua puluh lima tahun) imamat hendaknya menjadikan para imam lebih bersemangat dalam karya penggembalaan. Meski menghadapi banyak tantangan, jadilah gembala yang tetap tersenyum, penuh kasih dan memaafkan.

Hal ini disampaikan Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Kupang (KAK), Romo Daniel Afoan, Pr, dalam sambutannya pada perayaan Pesta Perak (25 Tahun) imamat Pater Bernard Beru, SVD, di Gedung Olah Raga Flobamora- Oepoi-Kupang, Kamis (11/6/2009). Acara syukuran ini disatukan dengan peringatan HUT ke-13 IKEF Kupang.

Perayaan pesta perak ini diawali dengan misa syukur yang dipimpin Pater Bernard Beru, SVD. Hadir Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya beserta Ny. Lucia Adinda Lebu Raya, Wali Kota Kupang, Drs. Daniel Adoe bersama Ny. Welmindje Adoe, Wakil Wali Kota Kupang, Drs. Daniel Hurek beserta istri, Kapolda NTT, Brigjen (Pol) A. Bambang Suedi, Wakil Ketua DPRD NTT, Hendrik Markus dan beberapa anggota DPRD NTT, Ketua MUI Propinsi NTT, H. Abdul Kadir Makarim, para pendeta GMIT dan Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Muspida Propinsi NTT, Ketua Ikatan Keluarga Kabupaten Ende Flores (IKEF), Dra. Sisilia Sona, wakil dari Provinsial SVD Timor, Pater Yulius Yasinto, SVD, Vikjen KAK, Romo Daniel Afoan, Pr, tokoh agama, tokoh masyarakat dan keluarga besar Pater Bernard Beru, SVD, para suster dan pastor di Kota Kupang serta undangan lainnya.

Menurut Romo Daniel, Pater Bernard adalah seorang gembala yang baik karena sudah menunjukkan perhatian dan kasih Allah kepada umatnya. Kebaikan dan perhatian Allah jangan sampai hanya untuk dipahami dan dihayati, tetapi ditindaklanjuti dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama.

Kebaikan Allah tersebut, katanya, diwujudnyatakan dalam setiap karya pewartaan yang menembus segala lapisan, sekat, suku, agama dan ras.

Perayaan pesta perak, katanya, harus tetap menjadi semangat dalam penggembalaan dan menjadi spirit bagi para imam untuk menjalankan karya pewartaannya.

Pater Yulius Yasinto, SVD, yang mewakili Provinsial SVD Timor, mengatakan, pesta perak merupakan sebuah peristiwa iman karena Allah menunjukkan cintanya yang besar. Perayaaan pesta perak imamat Pater Bernard menyatukan kita dalam semangat persaudaraan dan satu keluarga besar walaupun sebenarnya berasal dari berbagai macam lapisan.

Pater Yulius menyampaikan profisiat kepada Pater Bernard karena sudah setia dalam imamat suci dan membagi rahmat imamat dalam pewartaan firman kepada banyak orang.

Kapolda NTT, Brigjen (Pol) A. Bambang Suedi, mengatakan, Pater Bernard adalah sosok yang konsisten dan enak diajak berdiskusi dalam segala hal. Dia murah senyum sehingga sulit membedakan antara marah dan tidak. Suedi berharap Pater Bernad selalu menjaga kesehatan karena masih banyak orang yang membutuhkannya sebagai imam.

Seperti disaksikan Pos Kupang, sebelum perayaan misa syukur, kedatangan Pater Bernard Beru, SVD dan rombongan pastor serta keluarga dijemput dengan tarian Wanda Pela di halaman depan GOR Oepoi. Ia disambut oleh mosa laki (tokoh masyarakat Ende) dengan sapaan adat. Setelah itu, Pater Bernard dan rombongan diarak ke dalam GOR. Warga Ende di Kupang yang rata-rata mengenakan pakaian adat (ragi/luka dan lesu) menyambutnya dengan aplaus. Perayaan misa syukur ini dimeriahkan oleh tarian dan lagu-lagu dari Paduan Suara IKEF. (nia)

Pos Kupang edisi Jumat 12 Juni 2009 halaman 5

Pesta Perak Bernard Beru, SVD

"AKU murid hanya karena roh-Nya'. Itulah motto tahbisan imamat Pater Bernard Beru, SVD. Motto inilah yang menyemangatinya dalam tugas dan karya sebagai pekerja di ladang Tuhan. Pria kelahiran Ngalupolo, Ende, 5 April 1954, yang terkenal sebagai misionaris ekumene ini menjalani karya pelayanan untuk segenap lapisan masyarakat tanpa memandang suku, agama dan ras. Semangat itulah yang mengantarnya hingga merayakan pesta perak, Kamis (11/6/2009) hari ini.

Pater Bernard, begitu sapaannya, ditahbiskan menjadi imam di Ende, 11 Juni 1984. Kepada Pos Kupang di Biara Soverdi- Oebufu Kupang, Rabu (10/6/2009), putra ketiga dari pasangan Paulus Pasi (almarhum) dan Martina Sara ini mengisahkan susah senangnya berkarya sebagai seorang gembala.

Menurut dia, perjalanan menuju imamat memang tidak gampang. Karena itu, hal pertama yang dilakukannya pada pesta perak imamat adalah ucapan syukur tak terkira kepada Tuhan yang selalu menyertainya walau harus jatuh bangun.

Pada saat Pater Bernard masih berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia harus membantu kakak sulung dan ibunya untuk sekolah sambil kerja kebun. Setelah menamatkan SD di SDK St. Yosef Ngalupolo (1962-1967), dia ingin sekali sekolah di seminari, namun belum kesampaian. Ia memilih melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Kelinabe Ngalupolo (1968-1970). Selama di SMEP keinginannya masuk seminari tetap hidup. Maka, setelah tamat SMEP baru, ia masuk kelas gabungan Seminari Pius XII Kisol (1971) dan pada tahun 1972-1975 lanjut ke SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko dan masuk novisiat Ledalero tahun 1976-1978.

Pada tahun 1978 - 1981 dia menjalani studi filsafat di STFK Ledalero. Pada tahun 1981-1982, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Katedral Atambua.

Tantangan muncul ketika menjelang tahbisan imamat. Saat itu ada keraguan dari teman-teman bahwa ia mau ditahbiskan imam, karena gadis-gadis bergaul dekat sekali dengannya.
Ternyata setelah menyelesaikan studi dan diwisuda menjadi sarjana filsafat, keraguan itu tidak terbukti.

Tantangan berikutnya muncul sekembali menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Kakak sulungnya jatuh sakit lalu meninggal dunia di Lela.

"Ini pukulan bagi saya menjelang kaul kekal, di mana orang yang menjadi tempat tumpuan bagi saya malah meninggal. Saat itu, saya sempat frustrasi. Tetapi, kasih Tuhan tetap menemani saya di balik terpaan itu," kata Pater Bernard.

Ada sekian banyak sukacita yang dia alami. Dia masuk dalam kelompok orang pertama yang mengikut ujian sarjana filsafat berijazah negeri. Dia juga orang pertama yang lulus di situ dengan sekali uji.

"Ujian akhir memang sangat menyenangkan karena bisa menyelesaikan soal dengan baik, meskipun sebelumnya saya tidak mau ikut. Seminari tinggi juga senang dan akhirnya, 11 Juni 1984 saya ditahbiskan," kata Pater Bernard yang pernah menjalani studi hukum sipil di Universitas Atmajaya Yogyakarta dan menyelesaikannya di Fakultas Hukum Unwira Kupang.

Pukulan berikutnya terjadi saat hendak kembali ke Ende untuk mengadakan misa keluarga. Kakaknya yang kedua yang juga tempat tumpuan kedua meninggal dunia di Jakarta. Dia pun kembali frustrasi sehingga sempat tunda bertugs di Alor dari Agustus ke Desember tahun 1984.

Di Alor ia benar-benar ditempa karena situasi yang sulit. Menurutya, di Alor dia mengalami banyak pertengkaran antaragama, tapi ia tetap dikuatkan. Ia kuat karena harus mengayomi dan menggembalakan banyak orang yang mengalami kesulitan di mana agama Katolik menjadi minoritas. Ia benar-benar ditempa bagaimana menjadikan diri sebagai imam muda sekaligus menjadi sandaran bagi mereka yang kesulitan.

"Saya memang merasa dituntun karena betul dikuatkan dan diberi talenta untuk berbicara baik, penuh variasi sehingga umat tidak jenuh karena pastor hanya satu. Jadi harus ubah-ubah cara kotbah," kata Pastor yang selalu menggugah bahkan membuat merah telinga orang ketika memberi kotbah.

Dikatakannya, kalau ada sengketa ia selalu berusaha menyelesaikannya, dan karena kedekatannya dengan orang pemerintahan, Muspida sangat segan dengannya. "Ya, saya ditantang sekaligus disayangi. Di sana saya disayangi umat, makan minum ditanggung umat, bahkan baju saya dibeli umat saya yang kecil itu," kata Pater Bernard.

Tantangan dunia
Dari Alor, ia melanjutkan studi di Fakultas Hukum Atmajaya Yogya tahun 1989. Di sana ia kembali menghadapi segala macam tantangan dunia, terutama gadis-gadis. Namun ia tidak pernah merasa panggilannya sebagai imam goyah.

Dia senang bisa akrab sekali dengan orang dan banyak orang jatuh cinta padanya. Bahkan ketika sedang kuliah, ada mahasiswi yang terang-terangan mengatakan cintanya.
Karena disukai, katanya, rata-rata ia melayani semua lapisan masyarakat. Sebagai manusia ia merasa senang dan enjoy, tetapi tidak sedikit pun tergerak untuk berbelok dari panggilannya.

Di tengah kehidupan yang enjoy ketika akan menyelesaikan pendidikan, ternyata ia menderita diabetes serius. Kembali ia down karena sugesti oleh pengalaman tiga orang yang dikasihinya meninggal karena diabetes. Menariknya, pada saat ia sakit justru permintaan semakin banyak untuk memberikan ceramah rohani. Akhirnya ia larut dengan pelayanan tersebut.
Ia kembali ke Timor dan memulai kegiatan pembinaan rohani di Rumah La'at Manekan Kefamenanu-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sebuah pusat kegiatan rohani untuk para religius terutama para awam. Di situ dia mulai dengan latihan sebagai pembina kelompok kerasulan khusus, LSM dan pemerintahan dan diundang memberikan pencerahan di dewan paroki dan stasi di TTU.


Selanjutnya, ia ke Kupang untuk menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Unwira dan akhirnya bekerja di lembaga tersebut, membina campus ministry (pelayanan rohani) di kampus. Pada tahun 2007 ia melakukan refreshing ke Roma, Filipina dan Belanda. November 2008 ia kembali ke Kupang dan tidak lagi di kampus, tetapi diminta melayani rohani saja untuk Kota Kupang dan sekelilingnya.

Senang jadi murid yang bebas
Menurutnya, dengan motto "Aku Murid Hanya Karena Rohnya', ia tidak pernah ingin memimpin ini dan itu, tetapi senangnya menjadi murid yang bebas. Bekerja dalam semangat pentakosta yang sangat nyata dan kuat. Semangat itu membuatnya bekerja dengan 'tiada hari tanpa semangat, tiada hari tanpa kasih dan tiada hari tanpa maaf'. Setiap aktivitasnya selalu dijiwai dengan semangat tersebut.

Ia melayani dengan senang hati dan bekerja dengan penuh dedikasi sampai lupa makan. Kalau mengalami kesulitan atau disalah mengerti tidak jadi masalah karena sudah siap maaf. Dikatakannya, tiga hal ini berjalan bersama dan bekerja dengan obsesi, terbangunnya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kriteria Tiga B: bersih busana, bersih badan dan bersih batin.

Memang dalam banyak hal, ia menemukan banyak tantangan karena obsesi tersebut. Tantangan pertama adalah ia siap ditantang, kedua, ia sendiri harus memiliki kerohanian yang kuat agar tidak terpancing untuk turut marah. Yesus adalah satu- satunya idola dalam penyampaian firman dimana firman itu tajam bagai pedang.

"Saya sering membawakan pewartaan yang tajam dan membuat orang lain teriris hatinya. Tetapi itulah semangat yang harus diawali karena saya selalu menghadirkan Roh Kudus yang adalah api. Kalau ada masalah, saya hanya minta garansi pada Yesus, dan seperti Yesus yang datang mepersatukan semua orang, maka semua karya saya lakukan secara lintas batas. (agama, suku, ras dan sebagainya.

Perayaan pesta perak imat Pater Bernard berlangsung di GOR Oepoi. Ia berpikir gedung yang sebelumnya menjadi gelanggang olah raga telah membuatnya sebagai gelanggang olah roh. Hal ini perlu, karena sering olahraga kita berekor dengan perkelahian, pertengkaran dan sengketa. Diharapkan dengan semangat syukur ini, orang akan berolahraga dengan rohani yang baik. (apolonia matilde dhiu)

Pos Kupang edisi Kamis, 11 Juni 2009 hamalan 15



Copyright 2006| Blogger Templates by GeckoandFly modified and converted to Blogger Beta by Blogcrowds.
No part of the content or the blog may be reproduced without prior written permission.