KUANHEUM, PK -- Ikatan Keluarga Ende Flores (IKEF) Kota Kupang melaksanakan pengobatan gratis kepada masyarakat di Desa Kuanheum, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Minggu (1/11/2009). Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Desa Kuanheum.
Ketua IKEF Kota Kupang, Dra. Sisilia Sona, melalui Wakil Ketua, Huber Kami, menjelaskan, sebelumnya kegiatan pengobatan gratis sudah digelar di Kecamatan Alak, Kota Kupang pada Juli 2009.
Masyarakat begitu antusias mengikuti kegiatan tersebut. Saat pengobatan gratis itu, kata Huber, begitu banyak obat-obatan yang tersisa, sehingga semua pengurus dan anggota IKEF sepakat untuk memberikan pelayanan yang sama di kecamatan lain dalam wilayah Kota Kupang.
Namun ada permintaan masyarakat Kuanheum melalui warga Ende yang bedomisili di desa setempat dan menyampaikan kepada Ketua IKEF Kota Kupang, agar memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Saat itu ketua IKEF langsung menyanggupi sehingga dilakukan pengobatan gratis.
Menurut Huber, pengobatan gratis diberikan kepada semua masyarakat lintas golongan, baik yang ada di Desa Kuanheum maupun desa sekitarnya tanpa perbedaan.
Kegiatan ini, kata Huber, melibatkan dr. Samson Ehe Teron, dr. David Dekresano, dr. Riky Silaen serta perawat dan apoteker masing-masing empat orang secara sukarela.
Suksesnya pengobatan gratis ini, kata Huber, berkat keterlibatan berbagai pihak yang memberikan sumbangan baik dalam bentuk meterial, tenaga maupun sumbangan pikiran. "Program ini juga akan dimasukan dalam agenda IKEF sebagai program tahunan," katanya.
Pengobatan gratis dibuka kepala Desa Kuanheum, Nabunedus Anin, SE, dihadiri puluhan masyarakat Kuanheum dan sekitarnya.
Pengobatan gratis ini dimulai tepat pukul 11.00 Wita hingga selesai. Masyarakat terus berdatangan hingga memadati ruang rapat kantor desa setempat. Para pasien langsung diarahkan menuju empat orang perawat yang melakukan pemeriksaan tekanan darah serta mengidentifikasi keluhan pasien.
Setelah mendaftar, pasien satu persatu dipanggil petugas media untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kepada tiga orang dokter yang menempati dua ruang kerja kepala desa dan sekretaris.Kegiatan itu dihadiri penasehat dan pengurus IKEF, antara lain Frans Wara, S.H dan Pit Liga.
Nabunedus Anin menyampaikan terima kasih kepada semua pengurus IKEF dan anggotanya yang bersedia memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat Desa Kuanheum dan sekitarnya.
"Kami merasa bersyukur karena berkat Tuhan yang diberikan kapada keluarga besar IKEF dibagi kepada masyarakat melalui pengobatan gratis. Kami menyadari, bahwa pengobatan gratis ini sangat berharga bagi masyarakat, karena kesehatan sangat mahal harganya. Masyarakat sangat sulit berobat ke dokter karena biayanya sangat mahal, sehingga dengan kegiatan ini masyarakat bisa tertolong" katanya.Anin berharap kegiatan pengobatan gratis berlanjut pada waktu- waktu mendatang. (mas)
Pos Kupang 2 November 2009 halaman 19
Label: Aksi Sosial, IKEF, Pengurus IKEF
KUPANG, PK -- Perayaan pesta perak (dua puluh lima tahun) imamat hendaknya menjadikan para imam lebih bersemangat dalam karya penggembalaan. Meski menghadapi banyak tantangan, jadilah gembala yang tetap tersenyum, penuh kasih dan memaafkan.
Hal ini disampaikan Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Kupang (KAK), Romo Daniel Afoan, Pr, dalam sambutannya pada perayaan Pesta Perak (25 Tahun) imamat Pater Bernard Beru, SVD, di Gedung Olah Raga Flobamora- Oepoi-Kupang, Kamis (11/6/2009). Acara syukuran ini disatukan dengan peringatan HUT ke-13 IKEF Kupang.
Perayaan pesta perak ini diawali dengan misa syukur yang dipimpin Pater Bernard Beru, SVD. Hadir Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya beserta Ny. Lucia Adinda Lebu Raya, Wali Kota Kupang, Drs. Daniel Adoe bersama Ny. Welmindje Adoe, Wakil Wali Kota Kupang, Drs. Daniel Hurek beserta istri, Kapolda NTT, Brigjen (Pol) A. Bambang Suedi, Wakil Ketua DPRD NTT, Hendrik Markus dan beberapa anggota DPRD NTT, Ketua MUI Propinsi NTT, H. Abdul Kadir Makarim, para pendeta GMIT dan Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Muspida Propinsi NTT, Ketua Ikatan Keluarga Kabupaten Ende Flores (IKEF), Dra. Sisilia Sona, wakil dari Provinsial SVD Timor, Pater Yulius Yasinto, SVD, Vikjen KAK, Romo Daniel Afoan, Pr, tokoh agama, tokoh masyarakat dan keluarga besar Pater Bernard Beru, SVD, para suster dan pastor di Kota Kupang serta undangan lainnya.
Menurut Romo Daniel, Pater Bernard adalah seorang gembala yang baik karena sudah menunjukkan perhatian dan kasih Allah kepada umatnya. Kebaikan dan perhatian Allah jangan sampai hanya untuk dipahami dan dihayati, tetapi ditindaklanjuti dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama.
Kebaikan Allah tersebut, katanya, diwujudnyatakan dalam setiap karya pewartaan yang menembus segala lapisan, sekat, suku, agama dan ras.
Perayaan pesta perak, katanya, harus tetap menjadi semangat dalam penggembalaan dan menjadi spirit bagi para imam untuk menjalankan karya pewartaannya.
Pater Yulius Yasinto, SVD, yang mewakili Provinsial SVD Timor, mengatakan, pesta perak merupakan sebuah peristiwa iman karena Allah menunjukkan cintanya yang besar. Perayaaan pesta perak imamat Pater Bernard menyatukan kita dalam semangat persaudaraan dan satu keluarga besar walaupun sebenarnya berasal dari berbagai macam lapisan.
Pater Yulius menyampaikan profisiat kepada Pater Bernard karena sudah setia dalam imamat suci dan membagi rahmat imamat dalam pewartaan firman kepada banyak orang.
Kapolda NTT, Brigjen (Pol) A. Bambang Suedi, mengatakan, Pater Bernard adalah sosok yang konsisten dan enak diajak berdiskusi dalam segala hal. Dia murah senyum sehingga sulit membedakan antara marah dan tidak. Suedi berharap Pater Bernad selalu menjaga kesehatan karena masih banyak orang yang membutuhkannya sebagai imam.
Seperti disaksikan Pos Kupang, sebelum perayaan misa syukur, kedatangan Pater Bernard Beru, SVD dan rombongan pastor serta keluarga dijemput dengan tarian Wanda Pela di halaman depan GOR Oepoi. Ia disambut oleh mosa laki (tokoh masyarakat Ende) dengan sapaan adat. Setelah itu, Pater Bernard dan rombongan diarak ke dalam GOR. Warga Ende di Kupang yang rata-rata mengenakan pakaian adat (ragi/luka dan lesu) menyambutnya dengan aplaus. Perayaan misa syukur ini dimeriahkan oleh tarian dan lagu-lagu dari Paduan Suara IKEF. (nia)
Pos Kupang edisi Jumat 12 Juni 2009 halaman 5
Label: Warga IKEF
"AKU murid hanya karena roh-Nya'. Itulah motto tahbisan imamat Pater Bernard Beru, SVD. Motto inilah yang menyemangatinya dalam tugas dan karya sebagai pekerja di ladang Tuhan. Pria kelahiran Ngalupolo, Ende, 5 April 1954, yang terkenal sebagai misionaris ekumene ini menjalani karya pelayanan untuk segenap lapisan masyarakat tanpa memandang suku, agama dan ras. Semangat itulah yang mengantarnya hingga merayakan pesta perak, Kamis (11/6/2009) hari ini.
Pater Bernard, begitu sapaannya, ditahbiskan menjadi imam di Ende, 11 Juni 1984. Kepada Pos Kupang di Biara Soverdi- Oebufu Kupang, Rabu (10/6/2009), putra ketiga dari pasangan Paulus Pasi (almarhum) dan Martina Sara ini mengisahkan susah senangnya berkarya sebagai seorang gembala.
Menurut dia, perjalanan menuju imamat memang tidak gampang. Karena itu, hal pertama yang dilakukannya pada pesta perak imamat adalah ucapan syukur tak terkira kepada Tuhan yang selalu menyertainya walau harus jatuh bangun.
Pada saat Pater Bernard masih berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia harus membantu kakak sulung dan ibunya untuk sekolah sambil kerja kebun. Setelah menamatkan SD di SDK St. Yosef Ngalupolo (1962-1967), dia ingin sekali sekolah di seminari, namun belum kesampaian. Ia memilih melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Kelinabe Ngalupolo (1968-1970). Selama di SMEP keinginannya masuk seminari tetap hidup. Maka, setelah tamat SMEP baru, ia masuk kelas gabungan Seminari Pius XII Kisol (1971) dan pada tahun 1972-1975 lanjut ke SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko dan masuk novisiat Ledalero tahun 1976-1978.
Pada tahun 1978 - 1981 dia menjalani studi filsafat di STFK Ledalero. Pada tahun 1981-1982, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Katedral Atambua.
Tantangan muncul ketika menjelang tahbisan imamat. Saat itu ada keraguan dari teman-teman bahwa ia mau ditahbiskan imam, karena gadis-gadis bergaul dekat sekali dengannya.
Ternyata setelah menyelesaikan studi dan diwisuda menjadi sarjana filsafat, keraguan itu tidak terbukti.
Tantangan berikutnya muncul sekembali menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Kakak sulungnya jatuh sakit lalu meninggal dunia di Lela.
"Ini pukulan bagi saya menjelang kaul kekal, di mana orang yang menjadi tempat tumpuan bagi saya malah meninggal. Saat itu, saya sempat frustrasi. Tetapi, kasih Tuhan tetap menemani saya di balik terpaan itu," kata Pater Bernard.
Ada sekian banyak sukacita yang dia alami. Dia masuk dalam kelompok orang pertama yang mengikut ujian sarjana filsafat berijazah negeri. Dia juga orang pertama yang lulus di situ dengan sekali uji.
"Ujian akhir memang sangat menyenangkan karena bisa menyelesaikan soal dengan baik, meskipun sebelumnya saya tidak mau ikut. Seminari tinggi juga senang dan akhirnya, 11 Juni 1984 saya ditahbiskan," kata Pater Bernard yang pernah menjalani studi hukum sipil di Universitas Atmajaya Yogyakarta dan menyelesaikannya di Fakultas Hukum Unwira Kupang.
Pukulan berikutnya terjadi saat hendak kembali ke Ende untuk mengadakan misa keluarga. Kakaknya yang kedua yang juga tempat tumpuan kedua meninggal dunia di Jakarta. Dia pun kembali frustrasi sehingga sempat tunda bertugs di Alor dari Agustus ke Desember tahun 1984.
Di Alor ia benar-benar ditempa karena situasi yang sulit. Menurutya, di Alor dia mengalami banyak pertengkaran antaragama, tapi ia tetap dikuatkan. Ia kuat karena harus mengayomi dan menggembalakan banyak orang yang mengalami kesulitan di mana agama Katolik menjadi minoritas. Ia benar-benar ditempa bagaimana menjadikan diri sebagai imam muda sekaligus menjadi sandaran bagi mereka yang kesulitan.
"Saya memang merasa dituntun karena betul dikuatkan dan diberi talenta untuk berbicara baik, penuh variasi sehingga umat tidak jenuh karena pastor hanya satu. Jadi harus ubah-ubah cara kotbah," kata Pastor yang selalu menggugah bahkan membuat merah telinga orang ketika memberi kotbah.
Dikatakannya, kalau ada sengketa ia selalu berusaha menyelesaikannya, dan karena kedekatannya dengan orang pemerintahan, Muspida sangat segan dengannya. "Ya, saya ditantang sekaligus disayangi. Di sana saya disayangi umat, makan minum ditanggung umat, bahkan baju saya dibeli umat saya yang kecil itu," kata Pater Bernard.
Tantangan dunia
Dari Alor, ia melanjutkan studi di Fakultas Hukum Atmajaya Yogya tahun 1989. Di sana ia kembali menghadapi segala macam tantangan dunia, terutama gadis-gadis. Namun ia tidak pernah merasa panggilannya sebagai imam goyah.
Dia senang bisa akrab sekali dengan orang dan banyak orang jatuh cinta padanya. Bahkan ketika sedang kuliah, ada mahasiswi yang terang-terangan mengatakan cintanya.
Karena disukai, katanya, rata-rata ia melayani semua lapisan masyarakat. Sebagai manusia ia merasa senang dan enjoy, tetapi tidak sedikit pun tergerak untuk berbelok dari panggilannya.
Di tengah kehidupan yang enjoy ketika akan menyelesaikan pendidikan, ternyata ia menderita diabetes serius. Kembali ia down karena sugesti oleh pengalaman tiga orang yang dikasihinya meninggal karena diabetes. Menariknya, pada saat ia sakit justru permintaan semakin banyak untuk memberikan ceramah rohani. Akhirnya ia larut dengan pelayanan tersebut.
Ia kembali ke Timor dan memulai kegiatan pembinaan rohani di Rumah La'at Manekan Kefamenanu-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sebuah pusat kegiatan rohani untuk para religius terutama para awam. Di situ dia mulai dengan latihan sebagai pembina kelompok kerasulan khusus, LSM dan pemerintahan dan diundang memberikan pencerahan di dewan paroki dan stasi di TTU.
Selanjutnya, ia ke Kupang untuk menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Unwira dan akhirnya bekerja di lembaga tersebut, membina campus ministry (pelayanan rohani) di kampus. Pada tahun 2007 ia melakukan refreshing ke Roma, Filipina dan Belanda. November 2008 ia kembali ke Kupang dan tidak lagi di kampus, tetapi diminta melayani rohani saja untuk Kota Kupang dan sekelilingnya.
Senang jadi murid yang bebas
Menurutnya, dengan motto "Aku Murid Hanya Karena Rohnya', ia tidak pernah ingin memimpin ini dan itu, tetapi senangnya menjadi murid yang bebas. Bekerja dalam semangat pentakosta yang sangat nyata dan kuat. Semangat itu membuatnya bekerja dengan 'tiada hari tanpa semangat, tiada hari tanpa kasih dan tiada hari tanpa maaf'. Setiap aktivitasnya selalu dijiwai dengan semangat tersebut.
Ia melayani dengan senang hati dan bekerja dengan penuh dedikasi sampai lupa makan. Kalau mengalami kesulitan atau disalah mengerti tidak jadi masalah karena sudah siap maaf. Dikatakannya, tiga hal ini berjalan bersama dan bekerja dengan obsesi, terbangunnya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kriteria Tiga B: bersih busana, bersih badan dan bersih batin.
Memang dalam banyak hal, ia menemukan banyak tantangan karena obsesi tersebut. Tantangan pertama adalah ia siap ditantang, kedua, ia sendiri harus memiliki kerohanian yang kuat agar tidak terpancing untuk turut marah. Yesus adalah satu- satunya idola dalam penyampaian firman dimana firman itu tajam bagai pedang.
"Saya sering membawakan pewartaan yang tajam dan membuat orang lain teriris hatinya. Tetapi itulah semangat yang harus diawali karena saya selalu menghadirkan Roh Kudus yang adalah api. Kalau ada masalah, saya hanya minta garansi pada Yesus, dan seperti Yesus yang datang mepersatukan semua orang, maka semua karya saya lakukan secara lintas batas. (agama, suku, ras dan sebagainya.
Perayaan pesta perak imat Pater Bernard berlangsung di GOR Oepoi. Ia berpikir gedung yang sebelumnya menjadi gelanggang olah raga telah membuatnya sebagai gelanggang olah roh. Hal ini perlu, karena sering olahraga kita berekor dengan perkelahian, pertengkaran dan sengketa. Diharapkan dengan semangat syukur ini, orang akan berolahraga dengan rohani yang baik. (apolonia matilde dhiu)
Pos Kupang edisi Kamis, 11 Juni 2009 hamalan 15
Label: Warga IKEF
KESEBELASAN Kecamatan Ndona mempertahankan gelar juara Ipelmen Cup setelah pada final yang berlangsung di lapangan TNI AD, Kuanino-Kupang, Sabtu (30/5/2009), menang 2-0 atas Maukaro. Dua gol kemenangan Ndona dicetak oleh Lorens Lay dan Ferdy Pere.
Pertandingan kedua tim berlangsung menarik. Saling mengenal karakter permainan lawannya, serangan yang dibangun cukup berimbang. Ndona yang mengandalkan umpan-umpan panjang, tetap mengandalkan Ferdy Pere di depan. Sementara permainan Maukaro yang dikoordinir Alfons cukup taktis untuk mematikan Ferdy Pere. Nero yang menjadi palang pintu Maukaro cukup dingin untuk menghalau serangan lini depan Ndona.
Namun, strategi Maukaro untuk menjaga ketat pergerakan Ferdy Pere justru menjadi bumerang bagi mereka. Tekanan beruntun yang dibangun memaksa libero Maukaro untuk menjatuhkan Ferdy Pere dalam kotak penalti. Dan, Lorens Lay yang menjadi algojo dengan sempurna menaklukkan kiper Maukaro.
Keunggulan satu gol tidak membuat Ndona langsung menguasai permainan. Maukaro yang bertekad merebut predikat juara dari Ndona berusaha menyerang dari semua lini. Namun, upaya mereka tak membuahkan hasil, karena justru Ndona yang mencetak gol keduanya lewat Ferdy Pere. Gol Ferdy bertahan hingga pertandingan usai.
Manajer Ndona, Ambros Ngada yang mengomentari prestasi timnya mengatakan sangat bangga. "Meski ini hanya antar-kecamatan se-Kabupaten Ende di Kupang, namun kualitas permainan mereka sudah cukup membanggakan. Saya kira kesebelasan kami sudah siap untuk bersaing dengan klub-klub lain yang ada di Kota Kupang," ujarnya. (eko)
Pos Kupang edisi Senin, 1 Juni 2009 halaman 12
TIM asal Kecamatan Ndona memastikan tiket final kejuaraan sepakbola antar- kecamatan se-Kabupaten Ende di Kupang, Ipelmen Cup 2009. Dalam semifinal yang berlangsung di lapangan TNI AD, Kuanino, Kupang, Ndona menang 2-0 atas Kecamatan Ndori.
Didukung sejumlah pemain berkualitas, Ndona bermain sangat taktis. Lorens Lay yang mengkoordinir lini tengah Ndona mampu menguasai irama permainan. Hal ini membuat Ndona mampu menekan Ndori sejak awal babak pertama.
Meski demikian, Ndona baru bisa mencetak gol ketika pertandingan sudah memasuki menit ke-25. Ferdy Pere, pemain PS Kota Kupang ini dengan skil yang sempurna berhasil mengecoh kiper Ndori. Keunggulan Ndona langsung memicu anak-anak Ndori untuk menekan. Beberapa peluang berhasil mereka ciptakan, namun cemerlangnya penampilan kiper Ndona membuat semua peluang tersebut berhasil dimentahkan.
Babak kedua pertandingan yang dipandu Gery tersebut berlangsung menarik. Ingin mengejar ketinggalannya, Ndori mengambil inisiatif serangan. Meski demikian, mereka tetap kesulitan dan malah Ndona yang lagi-lagi mencetak gol keduanya lewat Gusti Ceme, beberapa saat sebelum wasit meniup pluit panjang.
Manajer Ndona, Ambros Ngada yang ditemui usai pertandingan mengaku puas dengan hasil tersebut. Meski sempat tegang karena Ndori juga memiliki peluang gol, namun Ambros memuji kedisiplinan permainan anak-anak asuhannya. "Kami sudah siap bermain di final, siapapun lawannya," ujar Ambros Ngada. (eko)
Pos Kupang edisi Rabu, 27 Mei 2009 halaman 12
KUPANG, PK -- Ikatan Keluarga Ende Flores (IKEF) Kupang, Sabtu (23/5/2009), menggelar pengobatan gratis bagi warga Kelurahan Alak, Kecamatan Alak. Sedikitnya, 200 warga mendapat pelayanan kesehatan pada kegiatan yang dipusatkan di teras kantor Kelurahan Alak itu.
Ketua IKEF Kupang, Dra. Sisilia Sona, saat ditemui di sela-sela kegiatan pengobatan mengatakan, tujuan digelarnya pengobatan gratis, yakni untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga masyarakat dan sebagai wujud kepedulian IKEF terhadap sesama, khususnya yang berada di kelurahan pinggiran Kota Kupang.
Kegiatan ini, jelas Sona, merupakan salah satu program kerja dari IKEF, khususnya dalam bidang kemasyarakatan. Menurutnya, ini merupakan salah satu program andalan IKEF. Dikatakan, kegiatan pengobatan gratis direncanakan setiap tiga bulan sekali, khusus untuk warga masyarakat yang bermukim di kelurahan pinggiran.
"Kami melaksanakan kegiatan ini tidak dikhususkan untuk masyarakat asal Kabupaten Ende yang ada di kelurahan pinggiran, tetapi seluruh masyarakat," kata Sona.
Tujuan lain dari kegitan ini, demikian Sona, yakni mempermudah masyarakat dalam memperoleh obat-obatan secara gratis.
Koordinator para dokter, dr. Yudit Anakota mengatakan, delapan orang dokter terlibat dalam kegiatan pengobatan gratis, dengan spesialisasi penyakit masing-masing.
Nurhayati, salah satu warga Alak yang ditemui terpisah mengatakan, kegiatan pengobatan gratis ini sangat membantu masyarakat.
"Anak saya, Jaya (2 tahun) dan Kadija (4 bulan), keduanya menderita penyakit batuk dan pilek. Kebetulan ada pengobatan gratis maka saya bawa keduanya untuk mendapat pemeriksaan dan obat gratis," kata Nurhayati.
Lurah Alak, Yohanis Adu, S.Sos menyampaikan terima kasih kepada pengurus IKEF yang peduli terhadap permasalahan kesehatan di Kelurahan Alak.
"Saya memberikan apresiasi yang tinggi. Diharapkan kegiatan ini tidak hanya satukali saja dilakukan para pengurus IKEF, tetapi kalau bisa, ada kesinambungannya," kata Adu. (den)
Sumber: Pos Kupang, koran terkemuka di NTT
Label: Aksi Sosial, IKEF
KESEBELASAN Maukaro berhasil merebut tiket terakhir ke babak semifinal turnamen sepakbola antar-kecamatan se-Kabupaten Ende di Kupang yang digelar Ipelmen Ende. Tiket semifinal direbut setelah dalam pertandingan terakhirnya di lapangan TNI AD, Kuanino-Kupang, Minggu (24/5/2009), menang 2-0 atas Ndona Timur.
Dengan hasil ini, Maukaro akan bertemu Nangapanda di semifinal yang akan digelar, Selasa (26/5/2009). Partai semifinal lainnya akan terjadi antara Ndona melawan Ndori.
Ndona, juara bertahan yang masih diunggulkan untuk mempertahankan gelarnya menutup babak penyisihan dengan kemenangan telak 5-0 atas Watuneso. Kalah atau menang tetap lolos, Ndona yang menurunkan semua pemain terbaiknya ternyata bukan lawan yang sepadan bagi Watuneso.
Ferdy Pere, striker PSKK yang memperkuat Ndona, benar-benar menjadi momok bagi pertahanan Watuneso. Kualitas permainan yang masih satu kelas di atas pemain bertahan Watuneso, membuat Ferdy Pere memborong lima gol bagi Ndona.
Manajer Ndona, Ambros Ngada yang mengomentari hasil pertandingan tersebut mengatakan, timnya hanya ingin bermain sebaik mungkin. Ambros mengakui kalau lawannya di babak semifinal, yakni Ndori merupakan tim yang solid dan sukar dikalahkan. Untuk itu, meski sudah pasti lolos, dia tetap meminta anak-anak asuhannya untuk bermain total sehingga jangan terbiasa untuk menganggap remeh lawannya. (eko)
Sumber: Pos Kupang koran terbesar di NTT
BERMAIN imbang 2-2 melawan Detusoko dalam pertandingan di lapangan TNI AD, Kuanino, Kupang, Sabtu (23/5/2009), Ndori berhasil meraih satu tiket ke babak semifinal turnamen sepakbola Ipelmen Cup 2009. Ndori lolos sebagai runner-up mendampingi Nangapanda A.
Di semifinal yang akan berlangsung, Selasa (26/5/2009), Ndori akan melawan tim kuat, Ndona yang sudah lebih dahulu lolos. Partai semifinal lainnya akan berlangsung antara Nangapanda A melawan runner-up Grup B yang masih diperebutkan antara Maukaro dan Ndona Timur.
Lolosnya Ndori ditentukan saat melawan Detusoko. Target minimal meraih hasil imbang untuk lolos membuat anak-anak Ndori bermain sangat tenang. Hal ini sangat berbeda dengan Detusoko yang butuh kemenangan untuk bisa lolos.
Detusoko nampak berusaha untuk menguasai permainan yang dipandu wasit Gery tersebut. Upaya mereka berhasil ketika Alfons dan Frids mencetak dua gol bagi mereka untuk membuka peluangnya. Namun, upaya mereka mempertahankan keunggulannya tidak dilakukan dengan disiplin. Stamina yang menurun di babak kedua membuat mereka kecolongan. Ndori yang ingin lolos berhasil membalas lewat gol Jacky dan Adi. Kemenangan ini langsung membuat Detusoko tersingkir.
Pertandingan lainnya, ambisi Nangapanda B untuk membuka peluangnya lolos ke semifinal tertutup saat melawan Pulau Ende. Harus menang agar bisa lolos, membuat Sony dkk berusaha untuk menekan Pulau Ende. Beberapa peluang berhasil tercipta, namun selalu digagalkan kiper Pulau Ende, Jaka. Pulau Ende yang sudah pasti tersingkir meski menang, justru mencetak satu buah gol lewat Jacky Leba beberapa saat sebelum pertandingan usai. (eko)
Sumber: Pos Kupang
Label: Detusoko, Ipelmen, Nangapanda, Ndori, Pulau Ende
KUPANG, PK -- Dra. Sisilia Sona yang saat ini menjabat Sekretaris DPRD NTT (Sekwan) dilantik menjadi Ketua Badan Pengurus Ikatan Keluarga Kabupaten Ende-Flores (IKKEF) Kupang di Gedung Olahraga (GOR) Oepoi, Kupang, Sabtu (31/1/2009) petang.
Acara ini juga dihadiri Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya, Ketua DPRD NTT, Drs. Melkianus Adoe, Wakil Walikota Kupang, Drs. Daniel Hurek, dan para sesepuh warga etnis Ende di Kota Kupang. Para pengurus IKKEF mengenakan pakaian adat Ende saat acara pelantikan itu.
Dalam sambutannya, Sisilia Sona mengatakan, warga etnis Ende yang ada di Kota Kupang mendukung program Gubernur NTT untuk menjadikan Propinsi NTT sebagai propinsi koperasi. "Saat ini di Kota Kupang ada 70 kelompok arisan etnis Ende.
Ada kelompok arisan etnis Ende yang berasal dari satu kampung, kelompok arisan etnis Ende yang berasal dari satu desa, dan ada kelompok arisan etnis Ende yang berasal dari satu Kecamatan. Kalau saja kelompok-kelompok arisan ini berkembang menjadi koperasi, maka program Pemerintah Propinsi NTT pasti akan terjawab," kata Sisilia Sona.
Selain itu, kata Sona, warga etnis Ende yang ada di wilayah Kota Kupang juga mendukung program Walikota Kupang, yakni Kupang Green and Clean (KGC). IKKEF mengharapkan, Pemerintah Kota Kupang bisa memberikan jatah satu bagian lokasi yang bisa ditanam warga etnis Ende sebagai bentuk kepedulian dan partisipasi warga etnis Ende di Kupang terhadap program KGC.
Mengenai program kerjanya memimpin IKKEF, Sisilia Sona mengatakan, hal pertama yang akan dilakukan bersama badan pengurus IKKEF adalah mengembalikan kepercayaan warga etnis Ende kepada badan pengurus IKKEF yang selama ini hilang. Upaya awal yang akan dilakukan adalah mengunjungi kelompok-kelompok arisan warga etnis Ende yang ada di Kota Kupang.
Mewakili Badan Pengurus IKKEF yang lama, Yukundianus Lepa mengatakan, jumlah warga etnis Ende di Kota Kupang saat ini yang tergabung dalam 70 kelompok arisan merupakan jumlah yang tidak sedikit. Sewajarnya di Kota Kupang ada empat anggota DPRD yang mewakili suara warga etnis Ende.
Yukun mengajak warga etnis Ende di Kota Kupang selalu bersatu dan bekerja sama ikut membangun Kota Kupang. Ajakan yang sama juga disampaikan sesepuh warga etnis Ende di Kota Kupang, Wilhelmus Wolo, S.H. Wolo meminta warga etnis Ende di Kota Kupang bersatu dan tidak terpecah-pecah.
Gubernur NTT, Drs. Frans Lebu Raya dalam sambutannya, mengatakan, di Kota Kupang ada banyak etnis, dan salah satu etnis yang ada di Kota Kupang adalah etnis Ende. "Kita butuh kebersamaan untuk maju. Mari sehati sesuara membangun NTT," kata Lebu Raya. (*)
Perempuan pertama....
Selama ini pemimpin etnis pada umumnya termasuk pemimpin etnis Ende adalah laki-laki. Dikukuhkannya Sisilia Sona sebagai Ketua Ikatan Keluarga Kabupaten Ende-Flores (IKKEF) di Kota Kupang pada acara pelantikan badan pengurus IKKEF di gedung Olah raga (GOR) Oepoi Kupang, menoreh cerita kalau Sisilia Sona merupakan perempuan pertama yang menjadi pemimpin etnis Ende di Kota Kupang.
Bagi Sisilia Sona sendiri, kepercayaan pada dirinya untuk memimpin warga etnis Ende di Kota Kupang melalui wadah IKKEF merupakan peristiwa menarik. Artinya, menjadi seorang pemimpin etnis tidak harus seorang laki-laki tetapi jika seorang perempuan dinilai mampu menjadi pemimpin maka tidaklah salah kalau seorang perempuan diberi kepercayaan memimpin etnisnya. Hal ini diungkap Sisilia Sona pada acara pelantikan dirinya dan badan pengurus IKKEF yang berlangsung di GOR Oepoi Kupang, Sabtu (31/1/2009) petang.
Keberadaan Sisilia Sona sebagai perempuan pertama yang menjadi pemimpin etnis Ende juga mejadi kebanggaan Gubernur NTT, Frans Leburaya. Pada kesempatan yang sama di GOR Oepoi Kupang, Sabtu (31/1/2009) petang, Gubernur NTT, Frans Leburaya mengatakan, karena kemampuannya Sisilia Sona juga telah dipercayakan Gubernur NTT menduduki jabatan sebagai Sekretaris DPRD (Sewan) Propinsi NTT. Sehingga, ditengah banyaknya kesibukan sebagai sekwan di DPRD Propinsi NTT, Sisilia Sona diharapkan mampu membagi tugasnya secara baik tetelah memperoleh kepercayaan menjadi ketua IKKEF.
"Sehari-hari ibu Sisilia Sona saya percayakan menduduki jabatan sebagai sekretaris DPRD Propinsi NTT. Tentu banyak tugas yang ia kerjakan sebagai sekwan tersebut. Tapi saya bangga juga karena Sisilia Sona menjadi perempuan pertama yang menjadi pemimpin etnis Ende. Saya berharap semuanya bisa berjalan secara baik dalam mengemban kepercayaan yang diberikan," kata Leburaya.
Sisilia Sona adalah istri dari Fransiskus Wara, S.H mantan Panitera Muda Pidana di Pengadilan Negeri (PN) Kupang. Sebelum menjadi Sekretaris DPRD Propinsi NTT, Sisilia Sona pernah menjadi Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Propinsi NTT. (*)
Sumber: Pos Kupang
Label: IKEF, Pengurus IKEF
KUPANG, PK -- Bupati Ende terpilih, Drs. Don M Wangge menegaskan, tahap awal yang akan dilakukan bersama wakilnya, Ahmad Muchdar usai dilantik bulan April 2009 nanti, yakni menata birokrasi. Dalam penataan itu jumlah satuan kerja perangkat daerah (SKPD) akan dikurangi guna merampingkan struktur birokrasi.
Donbosco Wangge mengatakan itu pada acara tatap muka bersama Ikatan Keluarga Kabupaten Ende Flores (IKEF) di Kota Kupang yang digelar di Hotel Oriental-Kupang, Selasa (17/2/2009) malam.
"Tahap pertama yang akan kami lakukan setelah kami dilantik menjadi Bupati dan Wakil Bupati Ende nanti, yaitu penataan birokrasi. Kami akan menempatkan seseorang dalam suatu jabatan berdasarkan kemampuan atau kualitas orang tersebut dan bukan berdasarkan kedekatan," ujarnya.
Wangge juga mengatakan akan melakukan restrukturisasi birokrasi karena jumlah SKPD cukup membengkak sehingga menjadi kaya struktur miskin fungsi. SKPD yang selama ini berjumlah 15 dinas/badan/kantor akan dikurangi menjadi 10 atau 11 SKPD saja. SKPD yang dirasakan kurang terlalu berperan akan dilebur dengan SKPD lain.
"SKPD harus dikurangi karena selama ini APBD Kabupaten Ende lebih banyak dipakai untuk biaya pegawai sehingga yang diperuntukan bagi rayat menjadi berkurang. Sementara tantangan utama di Kabupaten Ende saat ini adalah kemiskinan. Di Kabupaten Ende jumlah KK miskin mencapai 26.612 KK. Ini tantangan yang harus menjadi perhatian kami," tambahnya.
Selain masalah kemiskinan, kata Wangge, juga ada masalah bidang kesehatan dan pendidikan. Sekitar 1.500 anak lebih di kabupaten ini yang mengalami kurang gizi atau gizi buruk. Begitupun ketersediaan tenaga dokter, terutama dokter ahli yang terbatas di Kabupaten Ende membuat pelayanan kesehatan kepada masyarakat belum dilakukan secara optimal.
"Di bidang pendidikan, menurut saya pendidikan di Ende sedang berjalan menuju jurang kematian. Tahun '70-an sampai '80-an Ende menjadi tolak ukur pendidikan di NTT tapi saat ini Ende menduduki urutan 17 dari kabupaten/kota di NTT dalam bidang kelulusan siswa," tegasnya.
Mengatasi masalah pendidikan ini, ia mengajak orang tua asal Ende di Kota Kupang dan warga Kabupaten Ende untuk mengizinkan anak-anak mereka menjadi guru karena saat ini Ende masih kekurangan guru terutama guru sekolah dasar. Selain masalah tersebut, ia juga menyampaikan hal-hal lainnya yang menjadi visi dan misi serta program paket Doa memimpin Kabupaten Ende, lima tahun ke depan.
Ketua IKEF di Kupang, Sisilia Sona pada kesempatan itu mengatakan, IKEF siap mendukung Paket Doa dalam memimpin Ende lima tahun ke depan. IKKEF juga selalu berharap ditangan paket Doa masyarakat Kabupaten Ende menjadi lebih baik dan sejahtera. Hal yang sama dikatakan Sesepuh masyarakat asal Ende di Kupang, Drs. Wilhelmus Wolo. (*)
Sumber: Pos Kupang
Label: IKEF
KESEBELASAN Detusoko kini akan menjadi ancaman baru bagi tim-tim unggulan yang ikut dalam turnamen sepakbola Ipelmen Cup 2009. Tidak diperhitungkan, Detusoko berhasil mengalahkan Ende 1-0 dalam pertandingan di lapangan TNI AD Kuanino-Kupang, Kamis (14/5/2009).
Ende, sebenarnya tidak bermain jelek dalam pertandingan ini. Lini tengah justru mereka kuasai. Penempatan posisi yang bagus membuat Ende mampu mendikte permainan Detusoko. Hal ini membuat Detusoko berusaha untuk menyerang lewat bola-bola panjang dari belakang langsung ke depan.
Strategi ini cukup berhasil. Baru sebelas menit pertandingan berjalan, Detusoko berhasil menjebol gawang Ende. Sebuah umpan bola lambung dari belakang disambut dengan sundulan sempurna oleh Liven untuk membobol gawang Ende. Anak-anak Ende tersentak. Tekanan beruntun yang mereka bangun sempat mengancam pertahanan Detusoko, namun mereka tetap kesulitan mencetak gol.
Mandulnya lini depan Ende terus nampak di babak kedua pertandingan yang dipandu Musa dibantu Regan dan Nelson itu. Beberapa umpan dari tengah selalu gagal dimaksimalkan menjadi gol. Hal ini akibat dari aksi sapu bersih pemain belakang Detusoko yang berhasil mengamankan keunggulannya hingga pertandingan usai. (ee)
Pos Kupang 15 Mei 2009, halaman 12
PERTANDINGAN hari kedua turnamen sepakbola Ipelmen Cup II 2009, Rabu (13/5/2009), menampilkan dua partai yang sama-sama berakhir imbang. Nangapanda B bermain imbang 1-1 saat melawan Ndona Timur, sedangkan Nangapanda A dan Ndori bermain tanpa gol.
Pertandingan antara Nangapanda B melawan Ndona Timur berlangsung menarik. Saling menyerang antara kedua tim berlangsung sejak menit awal pertandingan. Namun, pada menit ke-29, Ndona Timur berhasil mengungguli lawannya.
Tendangan Victor, pemain bernomor punggung 13 dari luar kotak penalti, berhasil membobol gawang Nangapanda. Kedudukan 1-0 untuk Ndona Timur bertahan hingga turun minum.
Usai turun minum, Nangapanda berusaha mengejar ketinggalannya. Mereka terus mengutak-atik pertahanan lawannya. Dan, memasuki menit ke-62 perjuangan anak- anak Nangapanda membuahkan hasil. Sebuah umpan dari belakang, tidak disia- siakan Ivan yang dapat menyamakan kedudukan menjadi 1-1. Gol itu menjadi yang terakhir dalam pertandingan yang dipimpin Regan dibantu Nelson dan Ferdi.
Pertandingan lainnya yang dipimpin wasit Nelson dibantu Regan dan Ferdi berakhir tanpa gol. Nangapanda A dan Ndori yang menurunkan semua pemain terbaiknya sebenarnya sama-sama memiliki peluang untuk mencetak gol. Saling mengancam gawang lawan terjadi beberapa kali selama 90 menit pertandingan berlangsung.
Nangapanda A yang mengenakan kostum putih garis merah sempat membuat Ndori kewalahan di lini tengah. Namun begitu memasuki pertahanan Ndori yang memakai kostum orange, selalu berhasil dipatahkan. (ee)
Pos Kupang 14 Mei 2009 halaman 12
Label: Ipelmen, Nangapanda, Ndona Timur, Ndori, sepakbola
JUARA bertahan, Kecamatan Ndona, langsung meraih hasil positif dalam kejuaraan sepakbola antar-mahasiswa asal Kabupaten Ende di Kupang, Ipelmen Cup II. Dalam pertandingan perdananya di lapangan TNI AD Kuanino-Kupang, Selasa (12/5/2009), Ndona mengalahkan Kecamatan Maukaro dengan skor 2-0.
Pertandingan kedua tim yang disaksikan ratusan penonton tersebut berlangsung menarik. Ndona yang diperkuat beberapa pemain PSKK, seperti Kiser Mbou dan Ferdy Pere bermain sangat taktis. Kiser yang mengkoordinir lini belakang Ndona bermain cukup tenang sehingga anak-anak Maukaro kesulitan untuk masuk menyerang.
Baru lima menit pertandingan berjalan, Ferdy Pere sudah mencetak gol pembuka bagi Ndona. Skil sempurna yang dipertontonkan Ferdy membuat lini belakang Maukaro yang nampak belum siap tak sanggup menahan serbuan Ferdy.
Pertandingan selanjutnya berlangsung menarik. Tersentak dengan kebobolan tersebut, anak-anak Maukaro berusaha membangun serangan dari semua lini. Dan, upaya tersebut membuahkan hasil karena dua menit setelah gol Ferdy, Alfons berhasil menyamakan kedudukan.
Saat kedudukan imbang, kedua tim saling menyerang dengan berimbang. Namun, sebelum turun minum, Ndona yang berhasil mencetak satu gol lewat Yasmin Seto. Gol ini bertahan hingga turun minum. Di babak kedua pertandingan yang dipimpin Ragen dibantu Umbu dan Musa Luluporo tersebut kedua tim berusaha mengambil inisiatif serangan. Meski demikian, hingga wasit meniup pluit panjang, tidak ada gol tambahan yang tercipta.
Asisten III Sekot Kupang, Drs. Max Halundaka saat membuka event tersebut mengatakan harapannya agar tim peserta bermain secara sportif. Ia berharap selain mengejar juara, jalinan kekerabatan dan kekeluargaan bisa dibangun melalui sepakbola.
Ketua Ikatan Keluarga Ende Flores, Dra. Sisilia Sona, dalam sambutannya mengatakan, tujuan dari event tersebut adalah untuk lebih mempersatukan orang-orang asal Ende yang ada di Kupang. Ketua Panitia, Gabrial Kia melaporkan, event tersebut diikuti 11 klub dari kabupaten yang ada di Ende. (ee)
Pos Kupang 13 Mei 2009 halaman 12
Langganan:
Postingan (Atom)










