KUPANG, PK--Ketua Ikatan Keluarga Kabupaten Ende Flores (IKKEF) Kupang, Ny. Sisilia Sona, mengatakan, meski sudah setahun usia pengurus IKKEF, namun masih banyak hal yang belum dikerjakan untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingan warga IKKEF Kupang.
Sona mengatakan ini dalam refleksi setahun kepengurusan IKKEF. Kepada wartawan, Sona yang juga Sekretaris DPRD NTT ini mengatakan, pengurus IKKEF periode 2009-2011 dikukuhkan pada 31 Januari 2009 lalu. Pengukuhannya dilakukan oleh sesepuh IKKEF, Wilhelmus Wolo dan disaksikan, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, Wakil Walikota Kupang, Daniel Hurek, serta anggota IKKEF Kupang.
Dalam setahun kepengurusan, kata Sona, beberapa program dan rencana kerja sudah dilaksanakan. Namun program dan rencana kerja itu belum bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan semua anggota IKKEF.
Sona menyebut beberapa program dan rencana kerja yang telah dilaksanakan seperti konsolidasi organisasi, pengobatan gratis, penghijauan, bantuan modal usaha dan pembentukan koperasi kredit, serta beberapa kegiatan lainnya.
Konsolidasi organisasi, kata Sona, dilakukan dengan mengadakan pertemuan rutin pengurus serta pertemuan pengurus dan para ketua kelompok arisan. Pertemuan ini dilaksanakan sebulan sekali.
Selain itu, pengurus mengunjungi kelompok-kelompok arisan. Tujuannya mempererat tali silaturahmi sekaligus menerima masukan dari anggota kelompok arisan untuk penyelarasan program dan rencana kerja pengurus. "Dalam setahun ini baru 16 kelompok arisan yang dikunjungi dari 70-an kelompok arisan yang menjadi anggota IKKEF," kata Sona.
Kelompok arisan yang belum mendapat kunjungan, kata dia, akan dikunjungi pada tahun 2010 ini. Kegiatan pengobatan gratis, kata Sona, juga merupakan salah satu program bidang kesejahteraan. Kegiatan ini sudah dilaksanakan dua kali. Pertama di Kelurahan Tenau, Kupang, dan kedua dilaksanakan di Desa Kuanhemun, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang.
"Kegiatan pengobatan gratis, ini merupakan kerja sama pengurus IKKEF dengan para dokter asal Kabupaten Ende di Kupang serta Dinas Kesehatan Kota dan Propinsi NTT. Kegiatan ini juga akan dilaksanakan pada 2010," jelas Sona.
Pengurus IKKEF, kata Sona, juga melakukan kegiatan penghijauan di lokasi Jalan El Tari II. "Kegiatan ini mendukung program Pemerintah Kota Kupang, Kupang Green and Clean," paparnya.
Sedangkan untuk mendukung Program Gubernur Frans Lebu Raya dan Wakil Gubernur Esthon Funay, yang menjadikan NTT sebagai Propinsi Koperasi, kata Sona, Pengurus IKKEF juga telah membentuk Koperasi Kredit (KOPDIT IKKEF). Kopdit ini mulai beraktivitas sejak 4 April 2009. Jumlah anggota yang tercatat di buku register baru 27 orang, namun modalnya sudah mencapai Rp 15 juta.
Pengurus IKKEF bekerja sama dengan sebuah lembaga sosial, memberi bantuan modal usaha kepada 15 warga IKKEF melalui program Gerakan Cinta Sesama. "Bantuan modal memang belum menjangkau seluruh anggota IKKEF karena pihak lembaga masih melihat keseriusan dari warga IKKEF yang sudah mendapat bantuan," katanya.
Sementara, untuk menjawab ajakan Gubernur NTT Frans Lebu Raya agar warga IKKEF membangun kampung halamannya, kata Sona, pengurus IIKKEF telah membuat Program Gerakan Seribu Kelimutu (GESUKU). Gerakan ini, katanya, lebih ditujukan kepada kelompok-kelompok arisan, karena mereka yang lebih tahu kondisi kampung halaman mereka di Ende. (*/gem)
Pos Kupang 2 Februari 2010 halaman 6
Label: Pengurus IKEF
KUANHEUM, PK -- Ikatan Keluarga Ende Flores (IKEF) Kota Kupang melaksanakan pengobatan gratis kepada masyarakat di Desa Kuanheum, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Minggu (1/11/2009). Kegiatan ini dilaksanakan di Kantor Desa Kuanheum.
Ketua IKEF Kota Kupang, Dra. Sisilia Sona, melalui Wakil Ketua, Huber Kami, menjelaskan, sebelumnya kegiatan pengobatan gratis sudah digelar di Kecamatan Alak, Kota Kupang pada Juli 2009.
Masyarakat begitu antusias mengikuti kegiatan tersebut. Saat pengobatan gratis itu, kata Huber, begitu banyak obat-obatan yang tersisa, sehingga semua pengurus dan anggota IKEF sepakat untuk memberikan pelayanan yang sama di kecamatan lain dalam wilayah Kota Kupang.
Namun ada permintaan masyarakat Kuanheum melalui warga Ende yang bedomisili di desa setempat dan menyampaikan kepada Ketua IKEF Kota Kupang, agar memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat yang membutuhkan.
Saat itu ketua IKEF langsung menyanggupi sehingga dilakukan pengobatan gratis.
Menurut Huber, pengobatan gratis diberikan kepada semua masyarakat lintas golongan, baik yang ada di Desa Kuanheum maupun desa sekitarnya tanpa perbedaan.
Kegiatan ini, kata Huber, melibatkan dr. Samson Ehe Teron, dr. David Dekresano, dr. Riky Silaen serta perawat dan apoteker masing-masing empat orang secara sukarela.
Suksesnya pengobatan gratis ini, kata Huber, berkat keterlibatan berbagai pihak yang memberikan sumbangan baik dalam bentuk meterial, tenaga maupun sumbangan pikiran. "Program ini juga akan dimasukan dalam agenda IKEF sebagai program tahunan," katanya.
Pengobatan gratis dibuka kepala Desa Kuanheum, Nabunedus Anin, SE, dihadiri puluhan masyarakat Kuanheum dan sekitarnya.
Pengobatan gratis ini dimulai tepat pukul 11.00 Wita hingga selesai. Masyarakat terus berdatangan hingga memadati ruang rapat kantor desa setempat. Para pasien langsung diarahkan menuju empat orang perawat yang melakukan pemeriksaan tekanan darah serta mengidentifikasi keluhan pasien.
Setelah mendaftar, pasien satu persatu dipanggil petugas media untuk melakukan pemeriksaan kesehatan kepada tiga orang dokter yang menempati dua ruang kerja kepala desa dan sekretaris.Kegiatan itu dihadiri penasehat dan pengurus IKEF, antara lain Frans Wara, S.H dan Pit Liga.
Nabunedus Anin menyampaikan terima kasih kepada semua pengurus IKEF dan anggotanya yang bersedia memberikan pengobatan gratis bagi masyarakat Desa Kuanheum dan sekitarnya.
"Kami merasa bersyukur karena berkat Tuhan yang diberikan kapada keluarga besar IKEF dibagi kepada masyarakat melalui pengobatan gratis. Kami menyadari, bahwa pengobatan gratis ini sangat berharga bagi masyarakat, karena kesehatan sangat mahal harganya. Masyarakat sangat sulit berobat ke dokter karena biayanya sangat mahal, sehingga dengan kegiatan ini masyarakat bisa tertolong" katanya.Anin berharap kegiatan pengobatan gratis berlanjut pada waktu- waktu mendatang. (mas)
Pos Kupang 2 November 2009 halaman 19
Label: Aksi Sosial, IKEF, Pengurus IKEF
KUPANG, PK -- Perayaan pesta perak (dua puluh lima tahun) imamat hendaknya menjadikan para imam lebih bersemangat dalam karya penggembalaan. Meski menghadapi banyak tantangan, jadilah gembala yang tetap tersenyum, penuh kasih dan memaafkan.
Hal ini disampaikan Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Kupang (KAK), Romo Daniel Afoan, Pr, dalam sambutannya pada perayaan Pesta Perak (25 Tahun) imamat Pater Bernard Beru, SVD, di Gedung Olah Raga Flobamora- Oepoi-Kupang, Kamis (11/6/2009). Acara syukuran ini disatukan dengan peringatan HUT ke-13 IKEF Kupang.
Perayaan pesta perak ini diawali dengan misa syukur yang dipimpin Pater Bernard Beru, SVD. Hadir Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Drs. Frans Lebu Raya beserta Ny. Lucia Adinda Lebu Raya, Wali Kota Kupang, Drs. Daniel Adoe bersama Ny. Welmindje Adoe, Wakil Wali Kota Kupang, Drs. Daniel Hurek beserta istri, Kapolda NTT, Brigjen (Pol) A. Bambang Suedi, Wakil Ketua DPRD NTT, Hendrik Markus dan beberapa anggota DPRD NTT, Ketua MUI Propinsi NTT, H. Abdul Kadir Makarim, para pendeta GMIT dan Persatuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI), Muspida Propinsi NTT, Ketua Ikatan Keluarga Kabupaten Ende Flores (IKEF), Dra. Sisilia Sona, wakil dari Provinsial SVD Timor, Pater Yulius Yasinto, SVD, Vikjen KAK, Romo Daniel Afoan, Pr, tokoh agama, tokoh masyarakat dan keluarga besar Pater Bernard Beru, SVD, para suster dan pastor di Kota Kupang serta undangan lainnya.
Menurut Romo Daniel, Pater Bernard adalah seorang gembala yang baik karena sudah menunjukkan perhatian dan kasih Allah kepada umatnya. Kebaikan dan perhatian Allah jangan sampai hanya untuk dipahami dan dihayati, tetapi ditindaklanjuti dalam kehidupan sehari-hari terhadap sesama.
Kebaikan Allah tersebut, katanya, diwujudnyatakan dalam setiap karya pewartaan yang menembus segala lapisan, sekat, suku, agama dan ras.
Perayaan pesta perak, katanya, harus tetap menjadi semangat dalam penggembalaan dan menjadi spirit bagi para imam untuk menjalankan karya pewartaannya.
Pater Yulius Yasinto, SVD, yang mewakili Provinsial SVD Timor, mengatakan, pesta perak merupakan sebuah peristiwa iman karena Allah menunjukkan cintanya yang besar. Perayaaan pesta perak imamat Pater Bernard menyatukan kita dalam semangat persaudaraan dan satu keluarga besar walaupun sebenarnya berasal dari berbagai macam lapisan.
Pater Yulius menyampaikan profisiat kepada Pater Bernard karena sudah setia dalam imamat suci dan membagi rahmat imamat dalam pewartaan firman kepada banyak orang.
Kapolda NTT, Brigjen (Pol) A. Bambang Suedi, mengatakan, Pater Bernard adalah sosok yang konsisten dan enak diajak berdiskusi dalam segala hal. Dia murah senyum sehingga sulit membedakan antara marah dan tidak. Suedi berharap Pater Bernad selalu menjaga kesehatan karena masih banyak orang yang membutuhkannya sebagai imam.
Seperti disaksikan Pos Kupang, sebelum perayaan misa syukur, kedatangan Pater Bernard Beru, SVD dan rombongan pastor serta keluarga dijemput dengan tarian Wanda Pela di halaman depan GOR Oepoi. Ia disambut oleh mosa laki (tokoh masyarakat Ende) dengan sapaan adat. Setelah itu, Pater Bernard dan rombongan diarak ke dalam GOR. Warga Ende di Kupang yang rata-rata mengenakan pakaian adat (ragi/luka dan lesu) menyambutnya dengan aplaus. Perayaan misa syukur ini dimeriahkan oleh tarian dan lagu-lagu dari Paduan Suara IKEF. (nia)
Pos Kupang edisi Jumat 12 Juni 2009 halaman 5
Label: Warga IKEF
"AKU murid hanya karena roh-Nya'. Itulah motto tahbisan imamat Pater Bernard Beru, SVD. Motto inilah yang menyemangatinya dalam tugas dan karya sebagai pekerja di ladang Tuhan. Pria kelahiran Ngalupolo, Ende, 5 April 1954, yang terkenal sebagai misionaris ekumene ini menjalani karya pelayanan untuk segenap lapisan masyarakat tanpa memandang suku, agama dan ras. Semangat itulah yang mengantarnya hingga merayakan pesta perak, Kamis (11/6/2009) hari ini.
Pater Bernard, begitu sapaannya, ditahbiskan menjadi imam di Ende, 11 Juni 1984. Kepada Pos Kupang di Biara Soverdi- Oebufu Kupang, Rabu (10/6/2009), putra ketiga dari pasangan Paulus Pasi (almarhum) dan Martina Sara ini mengisahkan susah senangnya berkarya sebagai seorang gembala.
Menurut dia, perjalanan menuju imamat memang tidak gampang. Karena itu, hal pertama yang dilakukannya pada pesta perak imamat adalah ucapan syukur tak terkira kepada Tuhan yang selalu menyertainya walau harus jatuh bangun.
Pada saat Pater Bernard masih berusia tujuh tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia harus membantu kakak sulung dan ibunya untuk sekolah sambil kerja kebun. Setelah menamatkan SD di SDK St. Yosef Ngalupolo (1962-1967), dia ingin sekali sekolah di seminari, namun belum kesampaian. Ia memilih melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Ekonomi Pertama (SMEP) Kelinabe Ngalupolo (1968-1970). Selama di SMEP keinginannya masuk seminari tetap hidup. Maka, setelah tamat SMEP baru, ia masuk kelas gabungan Seminari Pius XII Kisol (1971) dan pada tahun 1972-1975 lanjut ke SMA Seminari St. Yohanes Berkhmans Mataloko dan masuk novisiat Ledalero tahun 1976-1978.
Pada tahun 1978 - 1981 dia menjalani studi filsafat di STFK Ledalero. Pada tahun 1981-1982, ia menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Katedral Atambua.
Tantangan muncul ketika menjelang tahbisan imamat. Saat itu ada keraguan dari teman-teman bahwa ia mau ditahbiskan imam, karena gadis-gadis bergaul dekat sekali dengannya.
Ternyata setelah menyelesaikan studi dan diwisuda menjadi sarjana filsafat, keraguan itu tidak terbukti.
Tantangan berikutnya muncul sekembali menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP). Kakak sulungnya jatuh sakit lalu meninggal dunia di Lela.
"Ini pukulan bagi saya menjelang kaul kekal, di mana orang yang menjadi tempat tumpuan bagi saya malah meninggal. Saat itu, saya sempat frustrasi. Tetapi, kasih Tuhan tetap menemani saya di balik terpaan itu," kata Pater Bernard.
Ada sekian banyak sukacita yang dia alami. Dia masuk dalam kelompok orang pertama yang mengikut ujian sarjana filsafat berijazah negeri. Dia juga orang pertama yang lulus di situ dengan sekali uji.
"Ujian akhir memang sangat menyenangkan karena bisa menyelesaikan soal dengan baik, meskipun sebelumnya saya tidak mau ikut. Seminari tinggi juga senang dan akhirnya, 11 Juni 1984 saya ditahbiskan," kata Pater Bernard yang pernah menjalani studi hukum sipil di Universitas Atmajaya Yogyakarta dan menyelesaikannya di Fakultas Hukum Unwira Kupang.
Pukulan berikutnya terjadi saat hendak kembali ke Ende untuk mengadakan misa keluarga. Kakaknya yang kedua yang juga tempat tumpuan kedua meninggal dunia di Jakarta. Dia pun kembali frustrasi sehingga sempat tunda bertugs di Alor dari Agustus ke Desember tahun 1984.
Di Alor ia benar-benar ditempa karena situasi yang sulit. Menurutya, di Alor dia mengalami banyak pertengkaran antaragama, tapi ia tetap dikuatkan. Ia kuat karena harus mengayomi dan menggembalakan banyak orang yang mengalami kesulitan di mana agama Katolik menjadi minoritas. Ia benar-benar ditempa bagaimana menjadikan diri sebagai imam muda sekaligus menjadi sandaran bagi mereka yang kesulitan.
"Saya memang merasa dituntun karena betul dikuatkan dan diberi talenta untuk berbicara baik, penuh variasi sehingga umat tidak jenuh karena pastor hanya satu. Jadi harus ubah-ubah cara kotbah," kata Pastor yang selalu menggugah bahkan membuat merah telinga orang ketika memberi kotbah.
Dikatakannya, kalau ada sengketa ia selalu berusaha menyelesaikannya, dan karena kedekatannya dengan orang pemerintahan, Muspida sangat segan dengannya. "Ya, saya ditantang sekaligus disayangi. Di sana saya disayangi umat, makan minum ditanggung umat, bahkan baju saya dibeli umat saya yang kecil itu," kata Pater Bernard.
Tantangan dunia
Dari Alor, ia melanjutkan studi di Fakultas Hukum Atmajaya Yogya tahun 1989. Di sana ia kembali menghadapi segala macam tantangan dunia, terutama gadis-gadis. Namun ia tidak pernah merasa panggilannya sebagai imam goyah.
Dia senang bisa akrab sekali dengan orang dan banyak orang jatuh cinta padanya. Bahkan ketika sedang kuliah, ada mahasiswi yang terang-terangan mengatakan cintanya.
Karena disukai, katanya, rata-rata ia melayani semua lapisan masyarakat. Sebagai manusia ia merasa senang dan enjoy, tetapi tidak sedikit pun tergerak untuk berbelok dari panggilannya.
Di tengah kehidupan yang enjoy ketika akan menyelesaikan pendidikan, ternyata ia menderita diabetes serius. Kembali ia down karena sugesti oleh pengalaman tiga orang yang dikasihinya meninggal karena diabetes. Menariknya, pada saat ia sakit justru permintaan semakin banyak untuk memberikan ceramah rohani. Akhirnya ia larut dengan pelayanan tersebut.
Ia kembali ke Timor dan memulai kegiatan pembinaan rohani di Rumah La'at Manekan Kefamenanu-Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), sebuah pusat kegiatan rohani untuk para religius terutama para awam. Di situ dia mulai dengan latihan sebagai pembina kelompok kerasulan khusus, LSM dan pemerintahan dan diundang memberikan pencerahan di dewan paroki dan stasi di TTU.
Selanjutnya, ia ke Kupang untuk menyelesaikan kuliah di Fakultas Hukum Unwira dan akhirnya bekerja di lembaga tersebut, membina campus ministry (pelayanan rohani) di kampus. Pada tahun 2007 ia melakukan refreshing ke Roma, Filipina dan Belanda. November 2008 ia kembali ke Kupang dan tidak lagi di kampus, tetapi diminta melayani rohani saja untuk Kota Kupang dan sekelilingnya.
Senang jadi murid yang bebas
Menurutnya, dengan motto "Aku Murid Hanya Karena Rohnya', ia tidak pernah ingin memimpin ini dan itu, tetapi senangnya menjadi murid yang bebas. Bekerja dalam semangat pentakosta yang sangat nyata dan kuat. Semangat itu membuatnya bekerja dengan 'tiada hari tanpa semangat, tiada hari tanpa kasih dan tiada hari tanpa maaf'. Setiap aktivitasnya selalu dijiwai dengan semangat tersebut.
Ia melayani dengan senang hati dan bekerja dengan penuh dedikasi sampai lupa makan. Kalau mengalami kesulitan atau disalah mengerti tidak jadi masalah karena sudah siap maaf. Dikatakannya, tiga hal ini berjalan bersama dan bekerja dengan obsesi, terbangunnya sumber daya manusia (SDM) yang memiliki kriteria Tiga B: bersih busana, bersih badan dan bersih batin.
Memang dalam banyak hal, ia menemukan banyak tantangan karena obsesi tersebut. Tantangan pertama adalah ia siap ditantang, kedua, ia sendiri harus memiliki kerohanian yang kuat agar tidak terpancing untuk turut marah. Yesus adalah satu- satunya idola dalam penyampaian firman dimana firman itu tajam bagai pedang.
"Saya sering membawakan pewartaan yang tajam dan membuat orang lain teriris hatinya. Tetapi itulah semangat yang harus diawali karena saya selalu menghadirkan Roh Kudus yang adalah api. Kalau ada masalah, saya hanya minta garansi pada Yesus, dan seperti Yesus yang datang mepersatukan semua orang, maka semua karya saya lakukan secara lintas batas. (agama, suku, ras dan sebagainya.
Perayaan pesta perak imat Pater Bernard berlangsung di GOR Oepoi. Ia berpikir gedung yang sebelumnya menjadi gelanggang olah raga telah membuatnya sebagai gelanggang olah roh. Hal ini perlu, karena sering olahraga kita berekor dengan perkelahian, pertengkaran dan sengketa. Diharapkan dengan semangat syukur ini, orang akan berolahraga dengan rohani yang baik. (apolonia matilde dhiu)
Pos Kupang edisi Kamis, 11 Juni 2009 hamalan 15
Label: Warga IKEF
KESEBELASAN Kecamatan Ndona mempertahankan gelar juara Ipelmen Cup setelah pada final yang berlangsung di lapangan TNI AD, Kuanino-Kupang, Sabtu (30/5/2009), menang 2-0 atas Maukaro. Dua gol kemenangan Ndona dicetak oleh Lorens Lay dan Ferdy Pere.
Pertandingan kedua tim berlangsung menarik. Saling mengenal karakter permainan lawannya, serangan yang dibangun cukup berimbang. Ndona yang mengandalkan umpan-umpan panjang, tetap mengandalkan Ferdy Pere di depan. Sementara permainan Maukaro yang dikoordinir Alfons cukup taktis untuk mematikan Ferdy Pere. Nero yang menjadi palang pintu Maukaro cukup dingin untuk menghalau serangan lini depan Ndona.
Namun, strategi Maukaro untuk menjaga ketat pergerakan Ferdy Pere justru menjadi bumerang bagi mereka. Tekanan beruntun yang dibangun memaksa libero Maukaro untuk menjatuhkan Ferdy Pere dalam kotak penalti. Dan, Lorens Lay yang menjadi algojo dengan sempurna menaklukkan kiper Maukaro.
Keunggulan satu gol tidak membuat Ndona langsung menguasai permainan. Maukaro yang bertekad merebut predikat juara dari Ndona berusaha menyerang dari semua lini. Namun, upaya mereka tak membuahkan hasil, karena justru Ndona yang mencetak gol keduanya lewat Ferdy Pere. Gol Ferdy bertahan hingga pertandingan usai.
Manajer Ndona, Ambros Ngada yang mengomentari prestasi timnya mengatakan sangat bangga. "Meski ini hanya antar-kecamatan se-Kabupaten Ende di Kupang, namun kualitas permainan mereka sudah cukup membanggakan. Saya kira kesebelasan kami sudah siap untuk bersaing dengan klub-klub lain yang ada di Kota Kupang," ujarnya. (eko)
Pos Kupang edisi Senin, 1 Juni 2009 halaman 12
TIM asal Kecamatan Ndona memastikan tiket final kejuaraan sepakbola antar- kecamatan se-Kabupaten Ende di Kupang, Ipelmen Cup 2009. Dalam semifinal yang berlangsung di lapangan TNI AD, Kuanino, Kupang, Ndona menang 2-0 atas Kecamatan Ndori.
Didukung sejumlah pemain berkualitas, Ndona bermain sangat taktis. Lorens Lay yang mengkoordinir lini tengah Ndona mampu menguasai irama permainan. Hal ini membuat Ndona mampu menekan Ndori sejak awal babak pertama.
Meski demikian, Ndona baru bisa mencetak gol ketika pertandingan sudah memasuki menit ke-25. Ferdy Pere, pemain PS Kota Kupang ini dengan skil yang sempurna berhasil mengecoh kiper Ndori. Keunggulan Ndona langsung memicu anak-anak Ndori untuk menekan. Beberapa peluang berhasil mereka ciptakan, namun cemerlangnya penampilan kiper Ndona membuat semua peluang tersebut berhasil dimentahkan.
Babak kedua pertandingan yang dipandu Gery tersebut berlangsung menarik. Ingin mengejar ketinggalannya, Ndori mengambil inisiatif serangan. Meski demikian, mereka tetap kesulitan dan malah Ndona yang lagi-lagi mencetak gol keduanya lewat Gusti Ceme, beberapa saat sebelum wasit meniup pluit panjang.
Manajer Ndona, Ambros Ngada yang ditemui usai pertandingan mengaku puas dengan hasil tersebut. Meski sempat tegang karena Ndori juga memiliki peluang gol, namun Ambros memuji kedisiplinan permainan anak-anak asuhannya. "Kami sudah siap bermain di final, siapapun lawannya," ujar Ambros Ngada. (eko)
Pos Kupang edisi Rabu, 27 Mei 2009 halaman 12
Langganan:
Postingan (Atom)







